Ketimpangan Liberalisasi Udara ASEAN: Studi Perbandingan Kapasitas Nasional Indonesia & Singapura melalui Citilink & Scoot
DOI:
https://doi.org/10.24843/JDN.2026.v01.i02.p02Kata Kunci:
ASEAN Open Sky Policy, Liberalisasi udara, Kapasitas nasional, Citilink, ScootAbstrak
ASEAN Open Sky Policy atau ASEAN Single Aviation Market merupakan kebijakan liberalisasi penerbangan yang bertujuan meningkatkan konektivitas regional dan memperluas akses pasar bagi maskapai negara anggota ASEAN. Namun, dalam prakteknya, kebijakan ini menghasilkan dampak yang tidak merata. Penelitian ini bertujuan menjelaskan mengapa implementasi ASEAN Open Sky Policy memberikan hasil yang berbeda bagi maskapai nasional melalui studi perbandingan antara Citilink Indonesia dan Scoot Airlines. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus komparatif. Data diperoleh melalui analisis dokumen resmi, termasuk laporan tahunan maskapai dan dokumen kebijakan liberalisasi penerbangan ASEAN. Analisis dilakukan secara deskriptif-analitis untuk mengidentifikasi faktor struktural yang mempengaruhi kemampuan maskapai dalam memanfaatkan kebijakan Open Sky. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan dampak kebijakan tidak disebabkan oleh desain ASEAN Open Sky Policy, melainkan oleh perbedaan kapasitas nasional negara asal maskapai. Citilink beroperasi dalam pasar domestik Indonesia yang besar sehingga orientasi pasar domestik, keterbatasan kapasitas finansial, dan kehati-hatian dalam menanggung resiko membatasi ekspansi internasional. Sebaliknya, Scoot beroperasi dalam konteks Singapura yang berorientasi global dengan dukungan negara sebagai enabler. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ASEAN Open Sky Policy bersifat simetris secara formal, tetapi menghasilkan dampak asimetris karena diterapkan pada kapasitas nasional yang tidak setara.
Unduhan
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 JURNAL DURA NEGARA

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.
