HIERARKI KEBAHASAAN PADA SENI PERTUNJUKAN TRADISIONAL BALI
Abstract
Seni pertunjukan tradisional Bali, seperti arja, drama gong, wayang, topeng, bondres dan gambuh, merupakan sebuah hasil kreativitas seniman tentang refleksi budaya Bali masa lampau yang diaktualisasikan kembali dalam kehidupan kekinian. Dalam pagelaran seni pertunjukan tradisional Bali tersebut, bahasa Bali masih digunakan secara intens. Bahasa Bali yang digunakan dengan selalu mengedepankan tata titi atau tata sopan santun kebahasaan yang disebut Anggah Ungguhing Basa Bali (AUBB) atau sebutan lainnya. Anggah Ungguhing Basa Bali ini menjadi piranti yang sangat menentukan kualitas seni pertunjukan tradisional Bali yang umumnya bertemakan istana sentris. Selain menjadi penanda kualitas, penggunaan bahasa Bali bertingkat tingkat (AUBB) ini menjadi penanda kesantunan, dan penanda status sosial (tata linggih) tokoh di dalam cerita.
References
Eriyanto. 2008. Analisis Wacana Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LkiS
Fashri, Fauzi. 2007. Penyingkapan Kuasa Simbol, Apropriasi Reflektif Pemikiran Pierre Bourdieu. Yogyakarta: Juxtapose.
Kersten S.V.D, J. 1970. “Tata Bahasa Bali”. Percetakan Ende Flores
Kerepun, Made Kembar. 2007. Mengurai Benang Kusut Kasta, Membedah Kiat Pengajegan Kasta Di Bali. Denpasar: PT. Empat Warna Komunikasi
Rokhman, Fathur dan Surahmat. 2016. Politik Bahasa Penguasa. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.
Suarjana, I Nyoman. 2008. Sor Singgih Basa Bali, Kebalian Manusia Bali Dalam Dharma Papadikan, Pidarta, Sambrama Wacana dan Dharma Wacana. Bali: PT Tohpati Grafika Utama
Suryati, Ni Made. 2016. “Keterkaitan Anggah-Ungguhing Basa Bali Dengan Kesantunan Berbahasa” (dalam Prosiding Seminar Nasional Sastra dan Budaya 27-28 Mei 2016)
Sutika, I Nyoman Duana. 2023. “Jejak Wacana Feodalisme Dalam Nukilan Teks Karya Sastra Naratif Tradisional Bali” (dalam Seminar Nasional Linguistik dan Sastra III, Unmas 23 Juni 2023)