PEMANFAATAN CAGAR BUDAYA ISTANA KOTO RAJO SEBAGAI SUMBER BELAJAR UTNUK MENUMBUHKAN KESADARAN SEJARAH SISWA KELAS XI DI SMA NEGERI 1 KUANTAN HILIR KABUPATEN KUANTAN SINGINGI
DOI:
https://doi.org/10.24843/PJIIB.2026.v26.i02.p01Keywords:
cagar budaya, pembelajaran sejarah, kesadaran sejarahAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan Istana Koto Rajo sebagai sumber belajar sejarah dalam menumbuhkan kesadaran sejarah dan identitas budaya siswa SMA, khususnya pada materi Masuknya Jepang ke Indonesia dan Pendudukan Jepang (1942–1945). Istana Koto Rajo tidak hanya dipahami sebagai peninggalan arkeologis, tetapi juga sebagai simbol identitas budaya dan ruang sosial yang merekam nilai-nilai adat, memori kolektif, serta dinamika sosial masyarakat lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi dalam kegiatan pembelajaran berbasis cagar budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi pembelajaran sejarah nasional dengan konteks lokal melalui kunjungan lapangan mampu meningkatkan pemahaman siswa terhadap hubungan antara kebijakan kolonial Jepang dan struktur sosial budaya masyarakat Koto Rajo. Siswa tidak hanya memahami fakta sejarah secara kognitif, tetapi juga mengalami proses pembelajaran kontekstual dan reflektif yang mendorong tumbuhnya kesadaran sejarah, identitas budaya, serta kepedulian terhadap pelestarian warisan budaya. Pembelajaran berbasis pengalaman ini menjadikan sejarah lebih bermakna, hidup, dan relevan dengan kehidupan siswa. Dengan demikian, Istana Koto Rajo berpotensi besar sebagai sumber belajar alternatif yang efektif dalam menghubungkan sejarah lokal, budaya, dan nasional secara holistik.
References
Anggraeni, D., & Sunarso. (2025). Pembelajaran sejarah berbasis kontekstual untuk meningkatkan kesadaran sejarah siswa. UNY Press.
Barthes, R. (1972). Mythologies. Hill and Wang.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kuantan Singingi. (2020). Profil cagar budaya Istana Koto Rajo. Penulis.
Hall, S. (1990). Cultural identity and diaspora. In J. Rutherford (Ed.), Identity: Community, culture, difference (pp. 222–237). Lawrence & Wishart.
Hamid, A. R. (2014). Pembelajaran sejarah. Ombak.
Johnson, E. B. (2002). Contextual teaching and learning: What it is and why it’s here to stay. Corwin Press.
Koentjaraningrat. (1985a). Kebudayaan, mentalitas dan pembangunan. Gramedia.
Koentjaraningrat. (1985b). Pengantar ilmu antropologi. Aksara Baru.
Kolb, D. A. (1984). Experiential learning: Experience as the source of learning and development. Prentice Hall.
Kuntowijoyo. (1995). Pengantar ilmu sejarah. Bentang Budaya.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Capaian pembelajaran mata pelajaran sejarah SMA Kurikulum Merdeka. Penulis.
Miles, M. B., & Huberman, A. M. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). Sage Publications.
Smith, G. A., & Sobel, D. (2010). Place- and community-based education in schools. Routledge.
Smith, L. (2006). Uses of heritage. Routledge.
Sugiyono. (2019). Metode penelitian kualitatif, kuantitatif, dan R&D. Alfabeta.
Widja, I. G. (2018). Pembelajaran sejarah yang kontekstual dan bermakna. Bumi Aksara.
