TANTANGAN SOSIOKULTURAL DALAM IMPLEMENTASI PSC 119: TINJAUAN LITERATUR KONSEPTUAL PADA MASYARAKAT DI WILAYAH PANDALUNGAN
DOI:
https://doi.org/10.24843/coping.2026.v14.i03.p05Kata Kunci:
Pandalungan, PSC 119, sosiokultural, gawat daruratAbstrak
Ketersediaan layanan Public Safety Center (PSC) 119 belum berbanding lurus dengan tingginya angka pemanfaatan di masyarakat. Berbagai evaluasi sebelumnya terlalu berfokus pada infrastruktur fisik dan mengabaikan dinamika kultural pengguna, khususnya pada entitas masyarakat hibrida seperti di wilayah Pandalungan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis tantangan sosiokultural dalam implementasi layanan kedaruratan medis PSC 119 pada masyarakat di wilayah Pandalungan (kawasan Tapal Kuda). Penelitian ini menggunakan desain Conceptual Literature Review. Pencarian data dilakukan melalui basis data Google Scholar dan Garuda, dengan menyeleksi 12 artikel utama (core articles) yang diterbitkan dalam rentang tahun 2021–2025 yang memenuhi kriteria inklusi terkait perilaku kedaruratan, hambatan komunikasi, dan karakteristik budaya Pandalungan. Data diekstraksi dan disintesis secara naratif-konseptual. Hasil tinjauan menunjukkan adanya benturan antara rasionalitas prosedur medis formal dengan perilaku kultural masyarakat. Rigiditas Standar Operasional Prosedur (SOP) call center 119 berlawanan dengan kepanikan psikologis dan nilai komunal (taretan serta gotong royong) masyarakat Pandalungan. Hal ini memicu kecenderungan masyarakat untuk melakukan evakuasi pasien secara mandiri dan spontan dibandingkan dengan mengandalkan birokrasi kedaruratan. Kesenjangan literasi masyarakat mengenai prosedur layanan juga memperkuat resistensi ini. Tantangan implementasi PSC 119 di wilayah Pandalungan berakar pada hambatan sosiokultural. Diperlukan strategi sosialisasi berbasis kearifan lokal dengan melibatkan tokoh agama (kiai) sebagai cultural broker, serta adaptasi protokol komunikasi darurat yang lebih fleksibel.



